Beragam atau bertumpuk? Hatta, dalam pidato pengangkatannya sebagai Doctor Honoris Causa di Universitas Gadjah Mada pernah menyinggung soal sistem ekonomi Indonesia berada dalam kondisi bertumpuk. Pidato berjudul Lampau dan Datang itu menyebut bahwa perjalanan sistem ekonomi di Indonesia tak berjalan linier, saling menggantikan satu dengan lainnya, sebagaimana yang terjadi di Benua Barat. Hal itu disebabkan oleh struktur feodalisme di Indonesia tak digantikan oleh organisasi kapitalisme, melainkan didudukkan di atasnya (Mohammad Hatta, 2015, Mohammad Hatta, Politik, Kebangsaan, Ekonomi, (1926-1977), Jakarta : PT Kompas Media Nusantara).
Hatta menyebut ada tiga lapisan ekonomi yang bertumpuk di Indonesia, yakni ekonomi natura dan separuh natura, ekonomi uang, dan ekonomi kredit. Keberagaman sistem ekonomi itu bukan tanpa resiko. Dampak yang terjadi adalah kesenjangan ekonomi dimana tingkat ekonomi yang kuat menghimpit dan menghalangi kemajuan dua lapisan tingkat ekonomi di bawahnya. Kesenjangan memicu konflik dan menimbulkan perpecahan.
Pandangan Hatta di atas malah membuat saya berpikir tentang eksistensi keragaman budaya di Indonesia. Apakah kehidupan budaya maupun kepercayaan di Indonesia saat ini juga bernasib sama seperti sistem ekonomi itu? Bertumpuk, saling menggencet hingga menghalangi kemajuan kebudayaan lainnya. Jika demikian, maka kehidupan budaya kita terancam oleh kesenjangan budaya.
Kita perlu sadari bahwa nasib budaya adalah nasib manusia pemeluknya. Jika suatu budaya terhimpit, maka manusia di dalamnya pun juga terancam. Hal demikian tentu tidak dikehendaki oleh cita-cita toleransi.
Keberagaman dan Kesatuan
Tak ada faktor yang paling menentukan atas lahirnya keberagaman selain kesuburan alam nusantara. Thomas Stamford Raflles, dalam bukunya The History of Java (2014, Narasi, Yogyakarta) memberi kesaksian tentang Jawa dimana kesuburan tanah dan udaranya yang sehat dan bersih telah mengundang bangsa asing menempati Jawa dan mendorong perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan.
Anthony Reid dalam buku Asia Tenggara dalam Kurun Niaga II (2011, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta) menyebut nusantara menjadi pusat perdagangan dunia pada kurun abad empat belas hingga tujuh belas. Penggerak utama perdagangan itu adalah rempah-rempah. Komoditas pangan tersebut pun menarik berbagai budaya dari belahan dunia datang ke nusantara. Ragam budaya itu lalu menetap, hidup berdampingan di tanah nusantara bagai bunga-bunga di taman dalam beberapa kurun waktu.
Apakah ragam budaya di nusantara selalu hidup akur berdampingan? Tentu tidak. Beberapa periode sejarah, adakalanya perbedaan memicu konflik hingga perang saudara. Namun akhirnya, situasi konflik itu mampu berakhir dengan gerak penyatuan melalui persenyawaan budaya yang berbeda sehingga menciptakan harmoni baru.
Sejarah mencatat terjadinya persaingan pengaruh dua agama besar Hindu dan Buddha era Mataram Kuno. Persaingan ini ditunjukan dengan dibangunnya dua candi besar, yakni Borobudur oleh dinasti Syailendra pada awal abad 9 dan candi Prambanan oleh dinasti Sanjaya pada awal abad 10. Namun persaingan dua agama besar itu berakhir dengan rekonsiliasi melalui pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani. Peristiwa ini sangat berarti sekali sebagai awal mula, benih dari sikap toleransi. Pernikahan politis-agama itu menciptakan kestabilan negeri Mataram Kuno.
Konflik agama kembali terjadi pada era awal berdirinya kerajaan Singashari. Dalam roman Arok Dedes, Pramoedya Ananta Toer mengkisahkan pertentangan kaum Brahmana dengan kaum Wisnu dimana hal ini dipicu oleh keinginan Kertajaya yang beraliran Wisnu untuk disembah, disamakan dengan dewa. Hal ini memicu perlawanan Tumapel yang berhasil mengakhiri kekuasaan Kediri. Setelah konflik berdarah itu, Ken Arok, di bawah pemerintahannya, menyatukan berbagai aliran agama, Brahma, Wisnu, Siwa dan lainnya yang sebelumnya saling bersaing. Tradisi ini juga diteruskan oleh penerus Ken Arok, Kertanegara yang bergelar Siwa Buddha berdasarkan Kidung Panji Wijayakrama. Proses penyatuan dua kepercayaan itu disebut sinkretisme.
Singkretisme Siwa Budha berlanjut dan berkembang maksimal di era Majapahit. Konsep singkretisme terus tercatat dalam beberapa karya sastra Jawa maupun dalam peninggalan arkeologi seperti candi Jawi, candi Jago, dan candi Panataran (krjogja.com). Salah satu karya sastra yang paling terkenal membahas konsep singkretisme adalah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika berasal dari bait 5, pupuh 139 Kakawin Sutasoma.
Bhineka Tunggal Ika adalah pernyataan filosofis yang sangat powerful sebab ia adalah titik pencerahan bangsa kita setelah melewati berbagai tantangan keberagaman. Kalimat itu menyiratkan petunjuk bagi generasi bangsa bahwa kunci keharmonisan negara Indonesia adalah melalui persenyawaan budaya. Semboyan negara kita menunjukan jalan untuk mencapai persenyawaan budaya adalah dengan melihat satu kebenaran dari beragam dzat yang berbeda.
Bait 5 dari pupuh 139 Kakawin Sutasoma menunjukan bahwa Bhineka Tunggal Ika bukan sekedar toleransi dengan mengakui perbedaan, melainkan lebih pada sebuah upaya untuk melihat persatuan. Sebab kebenaran adalah tunggal, dan tak ada kerancuan di dalamnya. Proses persenyawaan budaya mampu mengindarkan konflik budaya akibat suasana kehidupan budaya yang tumpang tindih, menghimpit dan saling menggilas antara satu dengan lainnya.
Indonesia Sebagai Titik Kematangan Jatuh Bangun Keberagaman
Berakhirnya riwayat Majapahit oleh kerajaan Islam telah menyeret kehidupan nusantara kembali dalam arus perpecahan. Perang demi perang muncul setelahnya, menumbalkan banyak korban, membuat kehidupan sosial semakin gersang secara ironis di atas tanah yang subur. Ajaran Bhineka Tunggal Ika dilupakan, rakyat pun menderita. Perpecahan dan perang saudara yang terus terjadi di nusantara diperparah oleh kehadiran bangsa Eropa yang menjajah nusantara.
Babak baru keberagaman pasca era Hindu-Siwa semakin kompleks dengan datangnya bangsa Eropa ke nusantara. Budaya Eropa bertemu dengan lapisan budaya yang sudah berdiam lebih dahulu di nusantara. Bangsa Eropa tak hanya membawa Kristen ke Nusantara, melainkan juga beragam aliran ideologi dari ekstrim kiri hingga ekstrim kanan, hasil dari renesaince Eropa. Konflik pun tak lagi didominasi oleh ragam aliran kepercayaan semata, melainkan juga antara keyakinan religius dan produk pemikiran sekuler.
Sejarah telah mencatat bagaimana proses perebutan kuasa dan pengaruh dengan mengeksploitasi solidaritas kelompok telah membuat rakyat sengsara. Keberagaman budaya yang bergejolak, saling menjatuhkan satu dengan lainnya menjadi titik lemah paling empuk untuk dimanfaatkan penjajah melalui politik adu domba. Tak ada persenyawaan budaya pada masa ini sehingga nusantara takluk. Saat itu, kita sedang lupa pada Bhineka Tunggal Ika.
Syukur, tokoh intelektual bangsa kita segera menginsyafi keadaan terpecah belah yang menjadi akar segala kesengsaraan rakyat. Singkretisme budaya kembali mengilhami para Founding Fathers Indonesia dalam upaya menciptakan kembali harmoni dan kestabilan negeri. Seperti Mpu Tantular, Soekarno menggali satu kebenaran yang tunggal yang terdapat dalam keragaman budaya, ideologi, agama di nusantara baik yang lampau maupun baru.
Upaya Soekarno berhasil dengan lahirnya Pancasila sebagai philosophische grondlag Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti Bhineka Tunggal Ika, Pancasila adalah titik puncak pencerahan kehidupan bangsa setelah jatuh bangun, berdarah-darah mengarungi dialektika keberagaman. Wujud konkret Pancasila adalah lahirnya Indonesia yang telah membebaskan kita dari penjajahan dan menolak penindasan antar sesama saudara sendiri, seperti yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita era raja-raja.
Kebudayaan Yang Tak Pernah Usai
Apakah tantangan keragaman sudah berakhir, berhenti pada budaya-budaya yang resmi diakui oleh negara saat ini saja? Tentu tidak. Budaya selalu tumbuh berkembang dan beranak pinak. Sebab itu, keberagaman budaya tak akan berhenti seperti laju populasi manusia. Sebagai negara yang memiliki tanah yang subur, Indonesia tak akan bisa terhindar dari kedatangan budaya-budaya baru dari belahan dunia kedepan. Namun apakah kita sudah siap menjadi laut yang selalu mampu menampung segala perkembangan budaya kedepan?
Mengingat tantangan perkembangan budaya kedepan, maka pemaknaan Bhineka Tunggal Ika tak bisa sebatas persatuan atas keragaman budaya yang telah ada sekarang, melainkan budaya yang akan datang atau lahir ke depan. Sebab itu, persenyawaan budaya akan terjadi terus menerus, dinamis seiring dengan pertumbuhan peradaban manusia.
Jika persatuan budaya hanya berlaku pada budaya yang sudah ada saat ini saja, maka hal itu akan berpotensi memunculkan konflik-konflik melelahkan kedepan. Jika tak diantisipasi, Indonesia akan selalu mengulangi sejarah kelam yang pernah dirasakan oleh bangsa kita akibat pertentangan budaya baru dan yang lampau.
Namun, bagaimanakah cara kita mengupayakan persenyawaan budaya secara terus menerus?
Pertanyaan di atas mengingatkan saya pada dokumen Surat Kepercayaan Gelanggang yang mewakili pegiat budaya angkatan Chairil Anwar. Poin-poin sikap kebudayaan itu sedikit banyak memberi bukti bahwa persenyawaan budaya akan selalu ada.
Surat itu diawali dengan kalimat “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri” Sebutan ahli waris yang sah merujuk pada sejarah bagaimana ragam bangsa dan budaya secara sukarela datang dan menetap di Indonesia. Sebagai ahli waris yang sah, para seniman Gelanggang hendak menegaskan hak bangsa Indonesia untuk meneruskan arah dan nasib budaya dunia tersebut dengan caranya sendiri. Kebudayaan dunia itu hendak dipelihara, namun bukan secara statis, saklek, membeo saja, atau meniru secara membudak pada tempat budaya tersebut berasal. Budaya dunia itu hendak disesuaikan dengan kehidupan Indonesia.
Sikap meneruskan budaya dunia dengan cara kami sendiri menjadi point penting untuk menangkal budaya yang bersifat puritan dan umumnya sangat anti kebangsaan pada taraf radikal. Sikap ini dapat melindungi Indonesia dari segala pengaruh dan kepentingan ideologi maupun agama yang bercorak internasionalisme. Dalam kurun sejarah, internasionalisme beberapa kali menjadi faktor kesengsaraan kehidupan bangsa. Sebut saja kapitalisme-kolonial. Kita juga ingat bagaimana internasionalisme ISIS dengan ideologi khilafah menimbulkan terorisme. Begitu pula dengan paham atau agama lainnya yang bersifat internasional juga bukan tidak mungkin membawa kepentingan global yang merugikan hidup nasional.
Pada satu sisi, seniman Gelanggang juga menolak untuk menutup diri dari dunia. Mereka mengajak Indonesia agar tidak stagnan, hanya berhenti pada mengkonservasi budaya semata. Sikap ini terlihat dalam kalimat “Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengkilat untuk dibanggakan.” Sikap melestarikan budaya yang sudah ada jangan sampai menjadi seperti memberi parfum pada mumi-mumi. Sikap yang hanya berorentasi pada melestarikan budaya lokal saja harus dihindari. Hal itu bisa mencekik perkembangan peradaban bangsa.
Pada kalimat berikutnya menggambarkan pandangan para seniman tentang kebudayaan Indonesia yakni sebagai “kebudayaan baru yang sehat.” Kebudayaan yang seperti itu dapat diciptakan dari “kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia dan yang kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri.” Tak ada definisi pasti, yang bersifat paten dan mengikat dengan tegas tentang kebudayaan Indonesia dalam pernyataan itu. Kebudayaan Indonesia juga tidak diikat oleh sebuah kebudayaan yang tetap. Satu-satunya ciri pasti yang bisa ditarik dari kebudayaan Indonesia adalah Pertama gerak persenyawaan budaya, kedua kebudayaan baru hasil proses persenyawaan tersebut yang bersifat sementara selama hasil persenyawaan budaya yang baru belum tercipta. Maka kebudayaan Indonesia, berdasarkan pandangan seniman Gelanggang, adalah kebudayaan yang bergerak, selalu berubah dan selalu baru melalui dialektika keragaman dan persatuan. Kebudayaan Indonesia adalah proses yang tak pernah usai.
Masa Depan Keberagaman
Mengingat pentingnya proses persenyawaan budaya yang telah dibahas, maka seharusnya, upaya menyatukan keragaman tak cukup hanya dengan menanamkan sikap toleransi, menghargai perbedaan, atau hanya memperkenalkan aspek materil budaya saja seperti kesenian dan produk kerajinan. Hal itu hanya akan memberi batasan-batasan pada keragaman yang ada. Toleransi kurang mengajak pada arah persatuan sebab dengan adanya penghormatan batas-batas.
Memang betul, cara itu mampu memungkinkan ragam budaya hidup damai berdampingan secara fisik, namun secara batin belum menyatu. Persatuan yang dibangun melalui fisik semata tentu tidaklah kuat.
Persenyawaan budaya memang tak mudah. Dibutuhkan kebesaran hati, dan kerja keras untuk menemukan satu kebenaran tunggal di antara keragaman yang hidup di Indonesia saat. Setiap dari kita harus berjuang untuk menjadi Mpu Tantular, atau Soekarno, Hatta dan Founding Fathers lainnya yang mampu menemukan kebenaran tunggal itu. Jika tidak, persatuan bangsa yang kita upayakan akan selalu terjebak pada penggunaan kekerasan untuk menekan perpecahan.
Pasca merdeka, Indonesia kembali diuji dengan konflik keragaman kelompok politik. Berbagai ideologi berebut pengaruh, saling menjatuhkan hingga bunuh membunuh, menggantikan pemain-pemain lama pada era Mataram Kuno, Kediri, dan Majapahit. Protes hingga pemberontakan muncul di daerah memaksa negara harus menjadi tirani. Kehidupan kembali memanas, tak aman dan menimbulkan kesengsaraan. Namun, itu semua berhasil dilewati sebab kita berpegang pada teguh Pancasila.
Sebagai bangsa yang telah ribuan tahun mengarungi konflik, jatuh bangun akibat perbedaan, maka seharusnya membuat kita menjadi matang dan bijak sebagai warga negara. Kedewasaan itu seharusnya mencegah kita untuk mengulangi kembali perpecahan bangsa yang menyeret nusantara dalam cengkraman penjajah. Kita harus selalu waspada dengan kekuasaan. Era Mataram Kuno, Kediri, Majapahit, kolonialisme hingga pasca kemerdekaan Indonesia telah memperlihatkan bagaimana ambisi politik selalu memicu perpecahan dan pertumpahan darah. Penolakan untuk kembali jatuh dalam kehidupan serba gelap akibat dijajah atau ditindas oleh saudara sebangsa adalah isi dari harga mati NKRI.
Kita harus benar-benar insyaf bahwa Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah kunci harmoni kehidupan Indonesia. Pancasila sebagai titik pencerahan kehidupan berbangsa harus senantiasa dijaga melalui amal perbuatan. Keberagaman yang sehat hanya bisa terwujud jika kita mampu menemukan Yang Tunggal di dalam segala perbedaan. Melalui persenyawaan budaya, konflik budaya pun bisa dihindari. Budaya yang lama pun tidak termarjinalkan dan lenyap sebab diperbaharui dengan budaya yang lain.
Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini, kita belum memperoleh kedamaian sempurna. Tindakan-tindakan intoleran masih beberapa kali terjadi di bangsa kita. Sebab itu, kita tidak boleh berhenti mencari kebenaran tunggal yang pernah mengilhami lahirnya Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.
