Suatu pagi cerah lahirlah sebutir anak padi di sawah pak tani. Namanya “Opu”. Ia dan anak-anak padi bergoyang gembira mengikuti arah angin.
Lalu datanglah seekor burung pipit. Ia hinggap di tangkai padi dan berkata:
“Hai anak-anak padi, selamat datang di dunia. Perjalananmu ke surga anak padi akan segera dimulai. Di sana adalah taman yang diciptakan Tuhan untuk anak-anak padi bermain dan bergembira.”
Opu dan teman-temannya sangat senang mendengar kabar dari pipit. Mereka pun bertanya:
“Bagaimana caranya pergi ke surga anak padi?”
“Mudah. Kamu harus menemui anak-anak manusia.”
Jawaban pipit membuat Opu bingung. Bagaimana cara ia menemui anak manusia? Sementara ia tak punya sepasang kaki untuk berjalan maupun sayap untuk terbang.
Burung pipit yang mengerti kegelisahan Opu berkata “tenang. Tak usah khawatir. Kamu bisa menemui anak manusia meski tak punya kaki atau sayap.”
“Caranya?”
“Ubahlah kulitmu jadi kuning keemasan. Itu akan menarik perhatian manusia untuk membawamu pulang ke rumahnya.”
“Terimakasih pipit” ucap Opu senang.
Hari demi hari, Opu dan teman-temannya berjuang keras mengubah kulitnya jadi keemasan. Usaha mereka pun berhasil.
Esok paginya, pak tani terkejut bahagia melihat padi-padi yang ia tanam sudah tiba masa panen.
“Ya Tuhan, aku sangat bersyukur. Tak terasa padiku sudah bisa dipanen”. Pak tani terharu menyadari segera berpisah dengan padi-padi yang telah ia besarkan seperti anaknya sendiri.
Pak tani mengambil karung dan alat perontok padi. Ia memanen padi-padinya lalu memasukkannya ke dalam karung. Sore harinya, pak tani membawa hasil panennya ke rumah menggunakan pedati.
Tiap hari, pak tani menjemur padinya di halaman rumah. Lalu pada suatu siang, burung pipit hinggap di dekat padi-padi itu. Opu pun bertanya:
“Apakah kami sudah bisa bertemu anak manusia, wahai pipit?”
“Hampir! Kamu harus mengubah kulitmu jadi putih keperakan agar manusia tertarik memasukkanmu ke dalam rumahnya.”
“Caranya?”
“Tenang saja. Bentar lagi pak tani akan membawamu ke rumah penggilingan padi. Disana tubuhmu akan diubah menjadi putih keperakan.”
Burung pipit bergegas terbang saat pak tani berjalan keluar rumah menenteng karung. Pak tani memasukkan Opu dan anak-anak padi ke dalam karung kemudian membawanya ke rumah penggilingan padi.
Deru mesin terdengar semakin keras saat memasuki rumah penggilingan padi. Opu dan teman-temannya merasa ketakutan. Burung pipit yang sedari tadi terbang mengikuti mereka pun mencoba menenangkan Opu dan teman-temannya.
“Jangan khawatir Opu. Mesin itu hanya membuatmu merasa geli saja” teriak pipit lalu terbang menjauh.
Pak tani menyerahkan karung-karung padinya ke pemilik rumah penggilingan padi. Satu per satu karung dibuka, lalu seluruh padi dimasukkan ke dalam mulut mesin. Opu dan teman-temannya berjatuhan, ditelan mulut besi yang gelap dan bergetar.
Opu dan teman-temannya tak bisa melihat. Mereka hanya merasa geli dan tertawa. Sesaat kemudian, mereka terdorong keluar menuju Lorong bercahaya lalu masuk ke dalam karung baru.
Opu dan teman-temannya terkejut begitu melihat badannya sudah berubah putih keperakan. Mereka merasa ringan, lebih segar, dan senang.
***
Pak tani kemudian membawa beras-berasnya ke pasar. Setibanya di toko beras, Opu dan teman-temannya diletakkan di depan toko. Pak tani pulang sambil tersenyum bahagia usai menerima uang penjualan beras dari pemilik toko.
Tak lama kemudian, burung pipit hinggap dekat karung beras. Melihat pipit, Opu pun bertanya “mana anak manusia yang akan membawaku pulang, wahai pipit?”
“Bersabarlah. Sebentar lagi mereka datang”
Benar saja. Tak lama kemudian datanglah seorang anak bersama ibunya ke pasar. Mereka hendak membeli beras. Pemilik toko pun langsung menunjuk ke arah Opu.
“Ini berasnya masih baru lho bu.”
“Wah bagus dan putih sekali! Saya beli yang ini saja deh pak”
“Iya maaa … Aku mau beras yang ini.”
Mendengar hal itu, Opu dan pipit senang bukan main. Ibu dan anaknya pun membawa mereka pulang ke rumah.
***
Pada hari berikutnya, pipit hinggap di jendela. Ia berjemur dan merapikan bulu-bulunya. Opu yang melihat pipit bertannya:
“Wahai pipit, kami sudah bertemu anak kecil. Dimana surga padi yang kau ceritakan?”
“Surganya ada di dalam tubuh anak manusia.”
“Bagaimana kami bisa masuk tubuh anak manusia?”
“Kamu harus berubah menjadi nasi dulu agar anak manusia tertarik memasukkanmu ke dalam tubuh mereka melalui mulutnya.”
“Bagaimana kami bisa berubah jadi nasi?”
“Tenang. Si ibu yang akan mengubah kalian jadi nasi menggunakan panci ajaib miliknya.”
Benar saja. Hari demi hari, beras dalam karung dimasak ibu untuk makan anaknya. Opu yang melihat tak sabar menanti giliran. Lalu, tibalah giliran Opu mandi uap dalam panci.
Opu pun berubah jadi nasi beraroma harum dan menggugah selera makan. Ia pun diambil oleh sang ibu lalu disajikan ke atas piring.
“Asyiiiik, giliranku tiba juga! Aku segera menyusul teman-temanku di surga anak padi” ucap Opu kegirangan.
Ibu meletakkan sepiring nasi itu ke atas meja, lalu memanggil anaknya.
“Nak, ayo makan! Main gamenya nanti lagi.”
“Iyaa maaa …” jawab si anak dengan muka lesu. Nampaknya, ia kesal karena disuruh makan di tengah asyik bermain game di ponselnya.
Si anak makan dengan ogah-ogahan. Ibu yang melihatnya pun menasihati:
“Nak, makannya harus habis ya. Tidak boleh sisa.”
“Iya maa … Emang kenapa kalau tidak habis?”
“Nasinya nanti menangis. Kalau kita membuat nasi sedih, padi tidak mau tumbuh lagi di bumi. Kalau tidak ada padi, kita mau makan apa?” ucap ibu.
Si anak hanya mendengar nasihat ibunya sambil lalu. Lalu diam-diam, si anak membuang sisa nasi, sayur, dan lauk ke tempat sampah. Malang sekali nasib Opu ikut terbuang.
“Jangan buang akuuu …!!!” teriak Opu.
***
Berhari-hari, Opu bersama sisa makanan lainnya menangis di tempat sampah. Opu mengadu, mengapa hidupnya berakhir di tempat sampah? Mengapa ia tak bisa bertemu teman-temannya di surga anak padi?
Badan Opu berubah jadi kusam dan membusuk akibat kesedihan. Dengan hati yang terluka dan bercucuran air mata, Opu berdoa:
“Ya Tuhan. Jika ternyata aku dilahirkan hanya untuk dibuang jadi sampah, aku tidak mau dilahirkan lagi ke dunia ini.”
Beberapa hari kemudian, langit menjadi terik. Tanah mengering dan tandus. Hawa bumi pun semakin panas. Alam yang semakin rusak membuat pak tani sedih karena sawahnya tak bisa lagi menghasilkan padi. Banyak anak kecil sakit dan kelaparan.
“Lapaar maa … Mau makan nasi! Aku janji tidak akan membuang nasi lagi!” rengek si anak yang menyesal telah membuang Opu dan tak menghabiskan makanannya. Kesedihan Opu menjadi bencana bagi manusia.