Sesaat setelah sebuah kilat putih menyilau mata, Nona Kayoko Nobutoki terlempar. Ia tak bisa bergerak sedikit pun. Tembok besar nan berat menimpa tubuhnya dan teman-temannya sesama siswa sekolah menengah atas Hiroshima Jazabuin. Mereka tak menyangka jika bom atom meletus di langit Hiroshima saat itu.
Tak lama kemudian, asap menyeruak masuk melalui celah reruntuhan, membuat sesak pernapasan gadis-gadis itu. Mereka merasa hidupnya tak akan lama lagi. Pada kondisi ambang kematian, tiba-tiba saja, seorang gadis menyanyikan Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang. Gadis-gadis lain lalu mengikutinya hingga satu per satu tewas saat tengah menyanyi. Beruntung, seorang dari mereka menemukan celah reruntuhan yang dapat digunakan untuk keluar.
Gadis itu pun selamat. Ia berhasil keluar setelah berjuang keras dengan sisa-sisa tenaganya. Keberuntungan nasib gadis itu menjadi jalan tersiarnya riwayat kematian teman-temannya melalui pena Jhon Hersey, dalam buku jurnalisme sastra Hiroshima Ketika Bom Dijatuhkan (2008, Depok : Komunitas Bambu). Buku ini terpilih sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad ke-20. Sebab buku ini, Hersey akhirnya memenangi Pulitzer Prize. Detik-detik terakhir para remaja berusia 13 tahun itu pun tak menguap begitu saja, dilupakan. Rasa nasionalisme mereka yang luar biasa selalu dikenang oleh zaman, menginspirasi, dan menjadi rujukan teladan.
Nona Nobutoki tak sendiri. Banyak warga Hiroshima yang percaya bahwa penderitaan mereka adalah pengorbanan untuk kaisar. Mereka merasa tenang melakukan dan mengalami menjelang detik-detik kematian. Negara memberi mereka kedamaian, memberi arti kematian dan penderitaan mereka. Bahkan, satu tahun setelah bom atom meletus, rasa nasionalisme warga Jepang semakin bertambah. Situasi mengagumkan ini sangat berbeda jauh jika kita bandingkan dengan sikap kita saat mengalami musibah Covid-19. Protes, kritik, menyepelekan aturan dan saling menyalahkan mewarnai hari-hari yang sulit.
Hampir setiap hari, media berita mengabarkan berbagai kalangan memprotes pemerintah. Demonstrasi, hujatan, dan kritik memanaskan situasi. Bahkan, ada pula ajakan untuk mengganti pemeritahan. Pemerintah pun merespon dengan hukum, peraturan, dan tindakan tegas. Krisis kepercayaan pun terjadi, menimbulkan pola hubungan tirani dan anarki. Pemerintah menganggap kritik sebagai pengacau atau penghasut, sedangkan kebijakan pemerintah yang terpaksa tegas demi keamanan pun dianggap penindasan.
Relasi politik yang sakit ini seolah melenyapkan fakta sejarah, bahwa kita pernah memenangi penderitaan yang lebih berat di masa penjajahan dengan cara bersatu, gotong royong. Namun sekarang, seolah kita semua saling melempar tanggungjawab, siapakah yang harus membereskan pandemi beserta segudang masalah turunannya. Upaya saling serang ini sungguh sangat berbeda dengan sikap warga Hiroshima yang merasa damai mengucap Banzai kepada Tenno meski di ujung napas penghabisan oleh bom atom.
Krisis kepercayaan yang kita saksikan membuat kita bertanya, seberapa kuat kah rasa kebangsaan yang kita miliki? Barangkali, situasi semacam ini yang mendorong berbagai pihak melakukan upaya membumikan Pancasila kembali. Ada semacam kecemasan bahwa rasa kebangsaan dan penghayatan Pancasila dinilai sedang pudar dalam kehidupan bangsa.
Di tengah krisis kepercayaan, tak jarang terdengar berbagai aliran pemikiran radikal berlomba-lomba merebut pengaruh, meyakinkan publik bahwa cita-citanya adalah solusi atas setiap persoalan yang terjadi. Seringkali, mereka memanfaatkan kehancuran moral pejabat, seperti korupsi, sebagai batu loncatan untuk mendapatkan kepercayaan publik. Hal ini menjadi boomerang ketika kelompok-kelompok anti negara itu berkembang. Saat musuh itu telah melakukan manuver, tak jarang kekerasan digunakan untuk menghentikan pembangkang.
Lantas, apakah kita akan selalu menggunakan kekerasan sebagai cara menegaskan pengaruh nasionalisme? Kekerasan hanya akan selalu melahirkan kepatuhan semu, dan membiarkan perlawanan menyusun kekuatan dengan diam-diam.
Kekuatan Keteladanan
Mengacu pada kisah rasa nasionalisme warga Hiroshima di muka, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pemimpin bangsa menjadi faktor paling menentukan kualitas jiwa patriot warga negaranya. Idealnya, para pemimpin bangsa harus memiliki kualitas jiwa seperti kaisar, raja-raja nusantara yang melegenda dari sisi yang positif, sehingga ia pantas menerima pengabdian rakyat serta seluruh kerelaan hatinya.
Sebagai simbol negara, pemimpin harus menjadi jembatan yang mampu menghubungkan rakyat dengan falsafah Pancasila agar selalu tercipta kesatuan. Jembatan itu bernama keteladanan. Pemimpin bangsa harus bisa menjadi figur, wadah, yantra, atau jelmaan duniawi dari gagasan yang tak kasat mata bernama Pancasila.
Urgensi keteladanan mengingatkan saya pada surat-surat Kartini yang terkumpul dalam buku Emansipasi, Surat-surat kepada Bangsanya 1899-1904 (2014, Yogyakarta : Jalasutra). Kartini melihat bahwa untuk mengangkat derajat bangsanya hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Seseorang yang pertama kali harus dididik adalah para bangsawannya. Ketika bangsawan terdidik, maka rakyat akan mengikutinya.
Beranjak dari pandangan Kartini di atas, maka dapat kita katakan bahwa kaum elit pemerintahan adalah para bangsawan di era demokrasi. Jika Pancasila hendak dibumikan, maka pemimpin negara harus yang pertama kali menghayatinya. Pemerintah yang Pancasilais akan menjadi lokomotif yang mampu menarik rakyat menuju kehidupan yang selaras dengan falsafah bangsa.
Keteladanan adalah cara komunikasi yang sangat mudah ditangkap oleh nalar rakyat dalam mengkomunikasikan gagasan abstrak Pancasila. Hal itu dikarenakan keteladanan bisa dilihat secara fisik oleh kedua mata. Rakyat dapat dengan mudah dan tepat memahami pesan-pesan Pancasila melalui amal perbuatan para pemimpin dibandingkan melalui pidato semata.
Gandhi pernah berujar “An ounce of practice is worth more than tons of preaching.” Kita tentu tak asing dengan petuah bijak yang mengatakan bahwa satu perbuatan lebih berarti daripada ratusan kata? Hal itu memang benar.
Amal perbuatan adalah media pendidikan yang sangat relevan untuk menyemai nilai-nilai Pancasila dalam kalbu rakyat Indonesia. Menjelaskan gagasan abstrak nilai-nilai Pancasila melalui medium amal perbuatan memiliki efek yang maksimal dibanding dengan menjelaskannya melalui kalimat, gambar, tarian, olahraga, lukisan, lagu, atau produk kerajinan. Sayangnya, amal perbuatan belum dilirik secara serius sebagai media untuk mengkomunikasikan Pancasila. Buktinya, kita masih sering menyaksikan perilaku korupsi hingga kekerasan aparat negara.
Keteladanan tidak lagi dipandang fungsinya hanya sebagai penyejuk mata, semata menimbulkan decak kagum dalam hati yang menyaksikan. Keteladanan itu menentukan nasib, panjang dan pendeknya umur suatu gagasan besar. Keteladanan menentukan hidup matinya falsafah bangsanya.
Kita bisa belajar pada ajaran agama besar di dunia yang mampu bertahan berabad-abad. Kita melihat bagaimana amal perbuatan seorang pembawa ajaran itu, misalnya para Rosul, selalu dikenang, disebar luaskan, dan diteladani umatnya. Keteladanan memberi para pemeluknya sebuah makanan batin yang melimpah.
Namun sebaliknya, saat perbuatan seorang pemeluknya atau pemimpin agama itu menyimpang dari ajaran, maka bukan hanya pelaku saja yang merugi, melainkan ajaran agama pun juga terkena getahnya. Kita bisa melihat kasus ini pada dampak negatif aksi terorisme pada ajaran Islam.
Agama kasih sayang yang dibawa oleh Muhammad SAW dicap sebagai agama teroris sebab perbuatan oknum tak bertanggungjawab. Akhirnya, di beberapa tempat ajaran tersebut tak disenangi. Nasib serupa juga bisa terjadi pada Pancasila.
Seringkali, manusia akan menilai sebuah gagasan atau kepercayaan melalui tindakan yang dilakukan penganutnya. Sebab itu, jika kita memiliki kejujuran hati hendak melindungi Pancasila dan tumpah darah Indonesia, maka sudah saatnya tindakan-tindakan yang tidak Pancasilais harus dihentikan. Gerakan ini harus dimulai dari para elit bangsa.
Batu penghalangan upaya membumikan Pancasila adalah ketiadaan teladan dalam diri elit bangsa. Memulihkan citra pemerintah yang sering diberitakan secara negatif sejak lama dan berulang memang membutuhkan perjuangan keras. Namun, perjuangan itu tak akan sia-sia sebab kelak Pancasila akan dipercaya oleh generasi bangsa Indonesia sebagai obor penerang kehidupan, bukan sebagai jubah penutup kedok merampok kekayaan Indonesia.
Melalui keteladanan, Pancasila akan membumi dalam kalbu ribuan abad generasi bangsa. Ketika kelak bangsa ini terkena musibah, maka tak akan lagi terdengar suara-suara sumbang seperti yang terjadi selama pandemi Covid-19, melainkan bertambahnya rasa kebangsaan dan gotong royong rakyat Indonesia. Itulah buah manis hasil dari amal perbuatan dan keteladanan yang disemai oleh para elit bangsa, jika dilakukan.
