Table of Content

Mengoptimalkan Pengentasan Stunting ala MBG

Mari menepi sejenak dari pro-kontra program Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial. Bawa hati dan pikiran bertandang ke rumah padat penduduk di sudut-sudut kota. Atau menyusuri pelosok desa dengan pondok kayu beratap seng. Apa yang Anda dapati?

Seorang ibu mengandung, sekaligus mengasuh anak balita. Jangankan bermain FB Pro atau berbalas komen di TikTok, mengurus diri sendiri pun seringkali tak sempat. Rumah berantakan, piring kotor, beras habis, dan si kakak yang harus diantar ke sekolah. Terkadang, harus membantu suami mencari nafkah. Bahkan jadi tulang punggung bila menjanda.

Kurang-lebih seperti itulah potret mayoritas ibu hamil Indonesia. Mereka berasal dari 60% penduduk Indonesia yang tergolong miskin oleh Bank Dunia (2024). Namun, mereka pula penyumbang aktif populasi bangsa Indonesia. Anak-anak mereka kelak tumbuh mendominasi kepemimpinan Indonesia di usia ke-100. Sayangnya mereka hidup dalam bayang-bayang stunting. Bonus demografi dapat berubah menjadi beban demografi, bila stunting tidak lekas diatasi.

Stunting terjadi akibat dua faktor, yakni (1) penyebab langsung seperti kekurangan gizi kronis di 1000 hari pertama kelahiran (HPK) dan infeksi, (2) penyebab tak langsung seperti kemiskinan, salah pola asuh, buruknya sanitasi, dan sulitnya akses air bersih dan pangan bergizi. Faktor ke dua lebih sulit diatasi karena menjadi akar persoalan stunting.

Strategi tepat untuk mengatasi stunting tentu menyelesaikan dua faktor sekaligus, mengingat keduanya berkaitan erat. Menurut saya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah strategi tepat.

Beberapa Alasan Mengapa MBG adalah Solusi Efektif

Mengapa MBG layak diperjuangkan? Sebab ia adalah bentuk komitmen politik nyata pemerintah Indonesia terhadap peningkatan gizi nasional. Komitmen politik adalah langkah penentu awal untuk mengurai faktor tak langsung stunting. Sayangnya, kurang diperjuangkan.

Apakah pemerintah terdahulu kurang berkomitmen pada gizi? Bisa jadi, mengingat prioritas, kemampuan fiscal, dan problem nasional setiap periode kepemimpinan berbeda-beda. Pada awal kemerdekaan, komitmen politik ditunjukkan dengan mendirikan Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Fokusnya adalah edukasi gizi dan pola konsumsi sehat. Salah satu programnya dengan mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan (SJPM) pada 25 Januari 1951. Lalu pada Orde Baru, Pemerintah pernah memiliki Program Makan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) pada 1957 lalu terhenti karena ada Reformasi setahun kemudian (1998).

Tahun-tahun berikutnya, program penanganan stunting cenderung terpencar di berbagai sektor pemerintahan. Ada yang melakukan intervensi gizi spesifik guna mengatasi penyebab langsung stunting. Ada pula yang melakukan intervensi gizi sensitive guna mengatasi penyebab tak langsung. Strategi ini kurang efektif, sebab penanganan stunting rentang tidak terkoordinasi dengan baik.

Sebagai komitmen politik, MBG terbilang lebih terkoordinir. Dampaknya lebih luas, sebab dapat melakukan intervensi gizi spesifik dan sensitive sekaligus. Produk MBG jelas, makanan bergizi yang diberikan setiap hari. Ibu hamil, balita, dan remaja putri jadi penerima manfaatnya. Edukasi tak hanya menguap di ruang-ruang sosialisasi, melainkan mewujud nyata dalam ompreng. Upaya intervensi gizi spesisifik selesai.

Bagaimana dengan intervensi gizi sensitif?

Dapur MBG tak hanya mengatasi kebutuhan gizi, melainkan meningkatkan perekonomian tingkat lokal. Ia membuka lapangan kerja dan menyerap produk petani dan pengusaha mikro di setiap daerah. Hal ini strategis dan tepat sasaran, sebab 60% masyarakat rentan stunting berasal atau berkaitan dengan sektor tersebut. Selain memperoleh penghasilan, beban belanja pangan bergizi harian juga berkurang. Ibu hamil bisa menghemat waktu dan finansial untuk beristirahat, fokus pada kehamilannya.

Contohnya di daerah saya, Salatiga. Masyarakat biasa yang kesulitan mencari kerja karena batas umur dan pendidikan, dapat memperoleh pekerjaan. Tak terkecuali penyandang difable. Pekerjaan tersedia di desanya masing-masing, sehingga menekan angka urbanisasi. Menekan emisi karbon, karena jarak rumah dan pekerjaan bisa ditempuh dengan langkah kaki.

MBG juga efektif mencegah anemia remaja putri. Terutama bila dibarengi dengan pemberian tablet penambah darah. Remaja putri juga dapat terhindar dari potensi pernikahan dini, mencegah angka putus sekolah, mengingat MBG terbukti efektif meningkatkan kehadiran murid di sekolah. Tanpa MBG, pendidikan gratis tak berjalan efektif bila murid suka bolos, putus sekolah, atau sulit berkonsentrasi saat menerima pelajaran.

Tentu cukup aneh bila ada saran untuk mengganti MBG dengan bantuan tunai langsung (BLT). Program bantuan tunai sudah banyak dikritik karena data tak akurat dan tidak digunakan sesuai peruntukan. Misalnya, untuk bayar hutang, kredit motor, dipinjamkan ke saudara, bahkan dipakai untuk judi online (Judol). Selain itu, BLT juga dianggap melanggengkan kemiskinan karena membiasakan rakyat bermental konsumtif dan pasrah. Saran ini berpotensi membegal masa depan cerah anak Indonesia.

MBG dapat mengatasi problem sanitasi layak dan akses air bersih khususnya dalam makanan. Sebab, dapur MBG dibangun dan beroperasi dengan standar teknis sanitasi layak. Seluruh peralatan masak berstandar food grade. Dikelola oleh tenaga food handler terlatih mengolah bahan pangan dengan baik dan aman. Sebab itu, keberadaan dapur MBG bisa mengatasi persoalan sanitasi dan higienitas di rumah. Mencegah infeksi atau dampak kimia membahayakan.

Bank Menu Gizi Nasional

Meski MBG terbilang program bagus, tak dipungkiri terdapat banyak problem dalam pelaksanaan teknisnya. Badan Gizi Nasional (BGN) cukup responsif dalam mengakomodir kritik public dengan mengambil tindakan tegas. Memberikan sanksi bahkan menghentikan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti bermasalah. Mendorong keterlibatan public maupun membentuk badan pengawas agar SPPG bisa “dihajar rame-rame” jika menyalahi prosedur.

Salah satu dari sekian banyak problem tersebut adalah variasi menu MBG. Khususnya berkaitan dengan bahan lokal dan menu keringan.

Bahan pangan lokal kerap kurang diapresiasi masyarakat. Misalnya, adanya menu ubi rebus di beberapa SPPG yang sempat viral diprotes warga. Dinilai kampungan, tidak cocok untuk anak zaman sekarang. Padahal, ubi adalah sumber karbohidrat yang lebih sehat daripada beras. Ketersediaannya di pedesaan juga melimpah. Bahkan, banyak masyarakat kota yang sadar kesehatan mengganti beras dengan ubi rebus. Terutama kalangan lansia.

Menurut saya, rendahnya citra pangan lokal karena minimnya sentuhan kuliner. Sebagian besar minat dan inovasi kuliner banyak dicurahkan pada fine dining dan ekosistem food and beverage (FnB). Hampir tidak ada pengembangan seni kuliner khusus untuk anak. Sebab itu, BGN perlu menggandeng professional chef untuk mengembangkan bahan pangan lokal jadi menu makanan menarik untuk anak, balita, dan ibu hamil.

Tak hanya ubi, masih ada superfood lokal lain yang belum disentuh seni kuliner. Seperti sukun, daun kelor, ikan gabus, hingga bekatul yang biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak. Ada juga belalang dan ulat sebagai sumber protein tinggi yang telah jadi kearifan lokal pangan di beberapa daerah. Namun, mayoritas masyarakat kita justru menganggapnya jijik. Padahal, edible insect digadang-gadang jadi sumber protein masa depan yang ramah lingkungan. Beberapa negara, seperti Cina, sudah membudidayakannya untuk mengantisipasi masa depan problem pangan.

Semua bahan pangan tersebut sangat melimpah dan murah. Dapat menekan biaya bahan baku MBG sekaligus mendukung ekonomi desa dalam ekosistem ketahanan pangan. Sayangnya, justru negara lain yang sangat berminat. Kita tidak berminat, sebab pengembangan seni kulinernya belum terjadi.

Oleh sebab itu, BGN perlu mendorong keterlibatan chef professional untuk mengembangkan bahan pangan lokal. Khususnya untuk menu anak, ibu hamil, lansia dan balita. Amat disayangkan bila hasil riset kandungan gizi hanya berakhir di kertas-kertas akademik hanya karena tidak ada yang memasaknya.

Selain untuk mempopulerkan sumber gizi lokal, upaya ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor, seperti kedelai dan gandum. Indonesia bisa memperkuat Rupiahnya hanya dengan seni olah pangan.

Peran serupa juga diperlukan dalam mengantisipasi minimnya variasi menu makanan kering. Kita ketahui, menu keringan MBG Ramadhan banyak menuai kritik. Baik dari segi variasi maupun kualitasnya yang dicurigai tak sesuai anggaran. Ada juga yang mempersoalkan, SPPG hanya beroperasi sebagai tukang packing alih-alih memasak.

Menurut saya, problem utamanya terletak pada budaya makanan Indonesia yang mayoritas makanan basah. Berbeda dengan negara-negara Barat maupun Timur Tengah. Mereka fokus mengembangkan budaya kuliner kering sebagai makanan utamanya karena tahan lama, seperti biscotti, cookies, atau shortbread. Ada pula biji-bijian kering hingga daging kering.

Di Indonesia, budaya makanan kering hanya menjadi camilan atau makanan pendamping. Bukan makanan utama. Akhirnya, menu kering MBG dinilai tak berkualitas dan terkesan hanya snack saja. Bukan makanan berat. Tantangan inilah yang harus dilempar BGN kepada professional chef di seluruh Indonesia. Terutama tantangan untuk mengolah bahan pangan pengganti gandum, agar mengurangi beban impor negara.

Hasil inovasi chef tersebut bisa didokumentasikan, disusun dalam bank data menu gizi nasional. Tak hanya SPPG, masyarakat umum bisa memanfaatkan resep olah pangan lokal tersebut di rumah mereka masing-masing. Tak hanya menuntaskan problem stunting, bank menu gizi nasional dapat menghemat keuangan negara, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus mendorong perekonomian masyarakat lokal.

Blogger.

Post a Comment