Table of Content

Bioetanol, Ikhtiar Energi Bersih Secara Ekologi dan Moral

 

Terbatasnya energi fosil dan ketergantungan kita pada energi tak terbarukan adalah problem serius dunia. Selain memicu pemanasan global, ketergantungan energi fosil juga merusak perdamaian dunia. Minyak bumi menjadi alasan negara maju terus-menerus memelihara perang di berbagai negara, demi mengamankan pasokan energi nasionalnya.

Ketergantungan energi fosil dapat mengancam stabilitas nasional dan kehidupan warganya. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya, harga kebutuhan pokok ikut naik. Masyarakat terdampak, pemerintah terpaksa mensubsidi. Demonstrasi terjadi, stabilitas negara terganggu. Padahal gak peduli sekeras apapun memprotes, harga minyak pasti semakin mahal karena semakin langka.

Lantas bagaimana bila suatu saat bukan kenaikan harga BBM yang kita hadapi, melainkan kehabisan pasokan energi? Contoh, saat krisis geopolitik Iran dan ditutupnya Selat Hormuz, energi Indonesia hanya mampu bertahan 20 hari saja. Untungnya pemerintah masih bisa memperoleh alternatif pasokan minyak selain Timur Tengah.

Bagaiama bila suatu saat negara produsen minyak enggan menjual minyaknya karena mementingkan kebutuhan energi nasionalnya? Keputusan tersebut dapat melumpuhkan negara importir minyak, seperti Indonesia. Bayangkan, alat transportasi pengangkut bahan pangan tak bisa jalan. Listrik padam. Komunikasi putus. Ekonomi lumpuh, kita kelaparan. Situasi sosial krisis, negara tidak stabil dalam hitungan hari. Kepentingan asing mengeksploitasi situasi krisis.

Krisis geopolitik adalah peringatan, betapa rapuhnya Indonesia jika terus memelihara kebiasaan impor energi. Ketergantungan energi fosil adalah celah lemah, titik paling rawan pertahanan nasional. Maka, swasembada energi mutlak dilakukan. Salah satunya adalah stop impor solar dengan bahan bakar nabati, sebagai sumber energi baru terbarukan.

Bioetanol adalah bahan bakar nabati bersih yang relevan bagi Indonesia. Alasannya, negara kita adalah produsen kelapa sawit terbesar dunia. Selain sawit, Indonesia punya potensi memproduksi tebu, jagung, dan singkong yang juga bisa diolah menjadi bioetanol.

Memilih bioetanol bukan tanpa alasan. Ada negara yang sudah sukses melakukan swasembada energi bersih dengan bioetanol, yakni Brazil. Negara ini sudah mengembangkan teknologi pengolahan tebu jadi bahan bakar sejak 1920, kemudian resmi meluncurkannya pada 1930. Saat krisis terjadi minyak dunia 1975, Brazil mengeluarkan kebijakan nasional mengubah produksi gula menjadi etanol. Langkah ini berhasil menyelamatkan Brazil dari krisis minyak. Selain untuk kendaraan, Brazil juga memanfaatkan bioetanol untuk pasokan listrik nasional. Terobosan ini membuat Brazil jadi salah satu negara terdepan di dunia untuk hal bioenergi.

Terinspirasi kisah sukses Brazil, Indonesia resmi menjalin kerjasama dengan negara tersebut dalam bidang energi baru terbarukan pada Oktober 2025. Kerjasama meliputi alih teknologi, transfer pengalaman, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), dari hulu ke hilir. Langkah ini menandai keseriusan pemerintah melakukan transformasi kemandirian energi bersih.

Bersih dan Inklusif

Tak sebatas memperkuat kemandirian energi nasional, bioetanol juga punya dampak strategis non-energi. Misalnya hilirisasi bioetanol. Program ini dapat mencegah brain drain, yakni eksodus talenta terbaik bangsa ke luar negeri karena tak memperoleh lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahliannya.

Berdirinya industri pengolah bioetanol membuka lapangan kerja, menyerap lulusan perguruan tinggi. Menyerap berbagai inovasi dan hasil riset energi bersih sehingga tak berakhir jadi fosil akademik di perpustakaan dan gudang. Bisa dimanfaatkan masyarakat luas. Investasi SDM melalui pendidikan dan gizi gratis yang dilakukan pemerintah secara massif tidak sia-sia, dinikmati negara lain.

Tak hanya lulusan perguruan tinggi, hilirisasi bioetanol juga mensejahterakan petani dan membuka lapangan kerja di daerah pelosok. Misalnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Proyek ini mengintegrasikan perkebunan tebu dengan bioetanol, mampu menyerap 3.500 hingga 15 ribu pekerja pada 2027. Bioetanol dapat menciptakan nilai tambah signifikan pada hasil panen mereka. Keringat petani lebih dihargai.

Bioetanol dapat meringankan beban fiskal negara, sebab tidak lagi mensubsidi harga minyak dunia agar terjangkau daya beli masyarakat. Negara bisa mengalihkan anggaran subsidi energi fosil untuk program-program strategis lain, seperti pendidikan, gizi, pengentasan kemiskinan, hingga pengembangan teknologi.

Bioetanol juga membantu Indonesia memenuhi target Net Zero Emission (NZE) demi lingkungan lebih lestari. Dibanding energi besih lain, misalnya panel surya, bioetanol tergolong lebih ramah lingkungan. Pemasangan instalasi panel surya besar-besaran justru mengurangi tanah produktif, maupun mengganggu ekosistem perairan. Tanah Indonesia yang subur justru lebih baik ditanami sawit, tebu, jagung, dan singkong yang menghasilkan oksigen daripada ditanami panel surya. Panel surya juga kurang berdampak secara ekonomi. Hanya menyerap sedikit tenaga kerja.

Pancasila dalam Energi Bersih

Indonesia akan mencatat sejarah penting transformasi swasembada energi bersih pada 1 Juli 2026. Pemerintah resmi meluncurkan biodiesel B50 sebagai BBM jenis baru. B50 adalah campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50% solar. B50 diharapkan mampu menekan ketergantungan impor energi fosil, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit.

B50 adalah langkah nyata pemerintah memberi solusi energi bersih yang patut diapresiasi. Sebagai warga negara, sudah sepantasnya kita juga turut berkontribusi mendukung transformasi energi bersih demi masa depan Indonesia. Caranya dengan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku energi kita.

Kita harus berketuhanan dalam menggunakan energi. Sikap ini ditunjukkan dengan mensyukuri energi sebagai anugerah Yang Maha Esa. Menggunakannya dengan bijak dan berhemat. Tidak merusak alam maupun menyakiti hewan dalam produksi dan konsumsi energi bersih.

Kita juga harus berperikemanusaan dalam energi. Sikap ini ditunjukkan dengan tidak mengambil energi bersubsidi, jika tidak berhak. Subsidi energi adalah hak masyarakat miskin. Kita juga harus bijak dalam merespon kenaikan harga BBM non-subsidi karena memang harus mengikuti harga minyak dunia.

Nilai persatuan mutlak diperlukan dalam transisi energi bersih. Tak semua pihak akan senang saat Indonesia memutuskan untuk berswasembada energi bersih. Gejolak sosial tak bisa dihindari. Sebab itu, kita harus kritis dan mewaspadai segala ajakan dan disinformasi yang berupaya menggagalkan program swasembada energi bersih. Kita juga harus bangga dan percaya diri mampu menciptakan energi bersih secara mandiri.

Swasembada energi bersih harus dilakukan dengan semangat kerakyatan. Merakyat berarti mengakui suara dan mendukung inovasi energi bersih dari rakyat. Program Desa Mandiri Energi adalah salah satu bentuk realisasi nilai ini, mendukung diversifikasi sumber energi bersih lokal yang dikembangkan masyarakat setempat.

Selain merakyat, energi bersih juga harus berkeadilan. Adil berarti memastikan seluruh proses transformasi energi tidak hanya bersih secara ekologi, melainkan juga bersih secara moral. Caranya dengan mengimplementasikan empat aspek energi inklusif, yakni keadilan rekognitif, distributive, procedural, remedial, untuk memastikan no one left behind. Tujuannya untuk menjamin nasib kelompok rentan, petani, anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat, di garis terdepan transisi energi bersih nasional.

Referensi:

  1. https://indonesia.go.id/kategori/editorial/7817/mandiri-energi-untuk-mandiri-ekonomi
  2. https://indonesia.go.id/berita/detail/ri-brasil-perkuat-kerja-sama-migas-hingga-sdm
  3. https://indonesia.go.id/galeri/foto/detail/b50-langkah-baru-kemandirian-energi
  4. https://buletin.papuaselatan.go.id/berita/gubernur-apolo-perkebunan-tebu-di-merauke-pekerjakan-3500-karyawan
Blogger.

Post a Comment