Table of Content

Sepotong Indonesia Merdeka di Pedusunan Susukan

Tak banyak informasi mengenai Susukan, nama desa sekaligus kecamatan ujung selatan kabupaten Semarang. Tiap disebut, ingatan orang seringkali merujuk pada kerupuk “pos”, satu jenis kerupuk bawang tradisional yang gurihnya khas.

Jika tidak, yang diingat adalah Sangkal Putung yang terkenal ahli menyambung patah tulang. Teringat pasca kecelakaan, aku pernah mengantre hingga dini hari saat berobat ke tukang pijit masyhur ini. Lalu, beberapa lainnya mengenal Susukan dengan pesantren-pesantren kecil yang tersebar di beberapa dusun.

Sebagian kecil Gen Z mungkin pernah mendengar “Deresan” beserta tingkah lucu warga udik dari penyampaian jenaka sang komika Sadana Agung Sulistya. Sebagian lagi mungkin mengenal Susukan melalui tulisan Wulan Maulina di Mojok.Co. Sulit untuk tak sepakat dengan Wulan, bahwa Susukan memang nyaman untuk ditinggali meski kurang sejahtera, fasilitas pendidikan dan kesehatan tak merata, serta hanya punya satu hiburan: nonton bus dari pinggir jalan tol!

Namun, semua bayangan di atas akan berubah bila kita bertanya pada sesepuh desa, maupun kakek nenek kita, mengenai masa lalu Susukan. Pedusunan asri ini dulu pernah menjadi lautan api, dentuman ledakan memekakkan telinga, hingga teriakan pejuang yang beradu dengan penjajah, diiringi tangis ketakutan warga.

Deretan batu persegi di bukit Gumuk, destinasi favorit petualangan masa kecilku, adalah saksi bisu, bagaimana sengitnya pertempuran antara warga Susukan dengan kolonial Belanda. Sebagai sisa-sisa bangunan benteng, tentu ia tak bisa menceritakan apa yang terjadi. Tak seperti almarhum kakek yang biasa disapa Mbah Sin.

Mbah Sin adalah veteran perang kemerdekaan Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan keaktifannya menghadiri perkumpulan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) setiap bulan. Acara tersebut diadakan di sebuah rumah milik Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Susukan. Sewaktu kecil, sekitar bangunan ini kerap kujadikan lokasi persembunyian petak umpet. Aku juga melihat, kakek datang bersama para veteran lainnya lengkap dengan seragam dan baret khasnya.

Hal paling diingat Mbah Sin tentu pengalaman perang melawan Belanda yang pecah di Susukan dan sekitarnya. Meski sering disinggung dalam obrolan, cerita beliau sepotong-potong. Tak tersusun rapi atau berurutan seperti bab-bab dalam novel. Tak ada urutan kronologi dan latar belakang. Tak ada awal dan akhir.


Misalnya saat Mbah Sin tiba-tiba menceritakan pengeboman Masjid Al Huda Petak. Dia langsung saja mengungkapkan ketakjuban betapa bola besi yang terlontar dari mulut kanon itu hanya membuat bangunan masjid retak. Tidak roboh. Kakek selalu menekankan, ini adalah keajaiban atau bukti pertolongan Allah Swt. Kekagumanku pada masjid hijau depan rumah masa kecilku itu pun bertambah kuat.

Beliau juga masih ingat bunyi dahan patah, maupun batang kelapa yang pecah dihantam peluru-peluru meriam. Namun yang membuatku kagum adalah, mental para warga yang berlindung dalam Masjid Petak sambil mujahadah. Hati mereka teguh, sama kokohnya dengan tiang-tiang masjid yang masih gagah berdiri hingga sekarang.

Tak cukup meriam, Belanda juga memberondong Susukan menggunakan “Cocor Merah”, julukan untuk pesawat tempur North American P-51 buatan Mustang. Pesawat ini populer dengan moncong merah lukisan mulut hiu. Mbah Sin bercerita, Belanda mengira para gerilyawan sembunyi di balik pepohonan bambu, lalu memberondongnya dari udara. Padahal, tak ada satu orang pun di sana, sebab info rencana penyerangan tersebut sudah diketahui para gerilyawan.

Suatu waktu, Mbah Sin tiba-tiba ingat saat beliau tertangkap Belanda waktu sembunyi di balik batu. Beliau dipenjara sekitar 3 bulan, sebelum kemudian dibebaskan. Waktu itu, kakek tidak lari menjauh, sebab teringat nasib kakak nenek yang juga tertangkap dan gugur dipukul popor senapan Belanda.

Mbah Sin juga pernah cerita tantangan yang dia hadapi selama menjadi laskar Hizbullah. Hidup dalam pelarian, bersembunyi di pedalaman hutan. Setiap berkunjung ke rumah om di Simo, Boyolali, kakek selalu menunjuk gua-gua di samping tebing Gunung Madu.

Kui guo Jepang” kata Mbah Sin, sambil menjelaskan fungsinya sebagai lokasi persembunyian dari serangan Belanda.

Tak mungkin bagi Mbah Sin tinggal di rumah. Sebab, selalu ada mata-mata di sana, entah itu tetangga atau orang bayaran Belanda. “Londo ireng” kakek menyebutnya. Kakek pernah diburu pribumi pengkhianat ini hingga membuatnya terpaksa menyelamatkan diri hingga daerah Sragen.

Hidup dalam pelarian sama kerasnya dengan didikan militer Jepang. Waktu itu, laskar Hizbullah masuk dalam barisan tentara pembela tanah air (PETA) bentukan Jepang. Mbah Sin bercerita, dia harus menahan bobot senapan, mempertahankan posisi tubuh yang sama selama berjam-jam di balik pohon, meski semut menggigit ganas atau menahan kencing. Tak boleh ada gerakan sebelum komando.

Tapi, latihan militer dan londo ireng bukanlah bagian terberat. Justru rasa rindu pada ibu lah yang paling menyiksa. Mbah Sin pernah bercerita, bahwa dia harus sembunyi-sembunyi hanya untuk bertemu simbok, panggilan untuk ibunya. Biasanya, kakek mengendap-endap masuk rumah tengah malam, langsung menuju kamar dan membangunkan simbok yang sudah tidur.

Tak ada perayaan atau obrolan meja makan dalam pertemuan anak dan ibu itu. Hanya pelukan dan derai air mata yang bicara. Keheningan itu tercipta, entah karena terlalu bahagia hingga tak sanggup berkata-kata, atau takut bilamana keberadaannya terdengar oleh maut yang mengintai di balik dinding-dinding kayu.

Momen paling berat tiba saat menjelang subuh. Muhsin muda pamit ke simbok untuk pergi lagi perang gerilya. Simbok hanya diam dan menangis. Diombang-ambing rasa tak rela tapi pasrah menyerahkan nyawa anaknya ke tangan Republik Indonesia yang tak jelas nasibnya kala itu. Tanpa menunggu izin atau restu, kakek meninggalkan simboknya dengan hati hancur karena melukai hati perempuan itu.

***

Belakangan baru kutahu dari buku dan riset mahasiswa, bahwa kisah kakek adalah bagian dari peristiwa Agresi Militer Belanda I. Sesaat setelah tentara Sekutu mundur, Belanda tiba di Semarang ingin kembali merebut wilayah jajahannya. Pasukan Belanda bergerak dari Semarang ke selatan, mematahkan pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Salatiga, lalu berencana ke Surakarta hingga Yogyakarta. Tapi upaya tersebut terhambat, dihadang oleh pejuang-pejuang lokal kelaskaran dari sekitar kecamatan Klero dan Susukan.

Pengeboman masjid Petak terjadi pada 18 Oktober 1947. A.H. Nasution dalam bukunya menjelaskan, pasukan infanteri Belanda bergerak ke Tegalwaton dan bermarkas di Kebonjeruk, Tengaran, sesudah merebut Salatiga. Mereka kemudian bergerak ke Suruh dengan kekuatan termpur terdiri dari dua kompi, dibantu sebuah tank, tiga pesawat tempur, ditambah sepucuk kanon. Semua ini dipersiapkan untuk menggempur Susukan. Total ada 89 korban gugur, termasuk kakaknya nenek, dalam pertempuran tersebut.

Mungkin pembaca heran, mengapa Susukan harus digempur sedemikian rupa?

Alasan Belanda menyerang Susukan habis-habisan, khususnya masjid Petak, karena menjadi markas utama para gerilyawan. Desa kita zaman dulu adalah pusat konsolidasi dan titik kumpul para pejuang lokal pro-Republik yang dipimpin oleh para kiai. Tokoh utamanya adalah KH. Mawardi.

Para kiai tergabung dalam barisan Sabilillah, sementara para santri dan pemuda, seperti Mbah Sin, jadi gerilyawan laskar Hizbullah. Gerakan ini lahir setelah KH. Hasyim Asy’ari, Rois Akbar Nahdhlatul Ulama (NU) mengeluarkan “Resolusi Jihad”. Fatwa ini keluar, sebagai tanggapan atas kedatangan Presiden Sukarno ke Pondok Pesantren Tebuireng guna meminta petunjuk hukum melawan kedatangan Belanda yang membonceng tentara Sekutu.

Mengisi Kemerdekaan dari Desa

“Apa kontribusi kita mengisi kemerdekaan?” Pertanyaan ini kerap mengusik hati, tiap mengenang jerih payah kakek, maupun leluhur kita yang gugur mempertahankan tanah Susukan.

Belasan tahun meninggalkan Susukan, bertahun-tahun pernah mencoba berbuat sesuatu yang berarti untuk negeri. Tapi, semua tak berjalan sesuai rencana. Tak semudah yang dibayangkan. Rasanya mau menyerah, hingga ku tak sengaja menemukan pemandangan tak biasa di beberapa sudut Susukan.

Suatu ketika saat hendak membeli sayur di Ketapang, tak sengaja kubaca gapura masuk Ketapan bertulis “Desa Sejahtera Astra, Paguyuban Petani Al Barokah”. Entah mengapa baru kali itu iseng mengamati tulisan di gapura oranye itu, padahal sudah puluhan kali melewatinya. Apa mungkin karena umbul-umbul warna-warni, yang terpasang sepanjang jalan menuju Pesantren Bina Insani yang kala itu dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Menteri Koperasi dan UKM RI, Tenten Masduki.

Dilanda penasaran, kucari informasi tentang Petani Al Barokah di mesin peramban. Apa yang spesial darinya? Rupanya, petani-petani Ketapang ini punya cara bertani yang tak biasa, yakni menanam padi secara organik berteknologi modern dengan menerapkan digital smart farming berbasis Internet of Things (IoT). Mereka membudidayakan padi secara alami, tanpa pestisida kimia dan pupuk sintetis.


Produk petani Al Barokah adalah aneka beras organik, meliputi beras putih, merah, hitam, beras khusus diabetes, ketan, hingga pupuk organik cair. Berkat label organik, hasil panen petani Ketapang lebih dihargai. Bahkan diminati pasar Timur Tengah.

Selain meningkatkan pemasukan petani, konsep pertanian organik membuat petani mandiri. Mereka tak perlu bergantung pada industri bibit dan pupuk untuk bertani, sehingga memangkas biaya produksi. Dampak kemandirian pupuk cukup luas. Lingkungan lebih ramah, kesuburan tanah terjaga, konsumen sehat. Bahkan, negara pun bisa menghemat anggaran bila mayoritas bertani secara organik, sebab tak perlu memberi subsidi pupuk.

Selain petani Ketapang, sudut Susukan yang menarik hatiku lainnya adalah rumah baca komunitas Wiji Semi (WiSe). Nama itu kuketahui dari papan besar yang menempel di tembok rumah samping musholla Mujahidin. Sewaktu kecil, aku kerap bermain Tamiya di sekitar rumah itu saat belum rampung digarap. Satu papan lagi di rumah Mbak Sofia, dekat pemakaman Krajan Susukan.

Gerakan literasi Wiji Semi lahir dari inisiatif emak-emak Susukan pada 2022. Tokoh utama sekaligus inisiatornya adalah Bu Surtini, seorang advokat sekaligus juga editor buku anak. Konsepnya adalah mengajak para ibu untuk aktif membacakan buku fisik untuk anak di rumah, lalu membagikan pengalaman pengasuhan berbasis literasi dalam komunitas. Tujuannya, mengurangi ketergantungan gadget pada anak, sekaligus mempererat ikatan antara ibu dan anak.

Wiji Semi menyediakan buku-buku anak berkualitas. Penggeraknya juga penulis aktif buku anak. Pas banget. Meski demikian, Wiji Semi berkeyakinan bahwa gerakan literasi tak perlu menunggu fasilitas gedung perpustakaan, maupun rak-rak penuh buku. Literasi justru lahir dari pangkuan para ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Sebab itu, kunci suskses gerakan parenting berliterasi ini terletak pada kesadaran orang tua. Wiji Semi sangat menekankan poin ini.

Mengapa paguyuban petani Al Barokah dan Wiji Semi menarik perhatianku secara pribadi? Alasannya, karena aku pernah bergerak di bidang pertanian organik dan literasi desa di tempat orang. Tapi tak sesukses gerakan warga Susukan ini. Hal ini tentu berkesan di hati.

Jika ditanya, bagaimana mengisi kemerdekaan dan meneruskan perjuang dari para pahlawan kita? Jawabannya bertani organik dan literasi. Dua hal ini adalah jawaban atas tantangan krisis lingkungan dan pangan, serta tantangan bonus demografi. Dua hal ini selaras dengan cita-cita dan tujuan nasional Indonesia, yakni memajukan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Acapkali, kita terkecoh dengan gagasan atau aksi-aksi besar memajukan Indonesia. Padahal, mewujudkan generasi emas 2045 bisa dilakukan dengan aksi-aksi sederhana namun berdampak, dilakukan dalam skala lokal desa bahkan dari rumah. Sebab itu, pemerintah desa punya andil besar merajut gerakan-gerakan kreatif warganya menjadi satu identitas desa Susukan yang baru. Bagiku, identitas desa tidaklah harus selalu berkaitan dengan masa lalu, atau bersifat statis. Ia dinamis dan bisa berkaitan dengan masa kini maupun masa depan.

Persis yang dilakukan pejuang-pejuang lokal Sabilillah-Hizbullah saat mempertahankan tanah Susukan. Kita pun bisa meneladani aksi petani-petani Ketapang maupun emak-emak Wiji Semi Susukan, dalam mengisi dan merawat kemerdekaan dari desa.

Berbekal identitas desa yang visioner, Susukan dapat tampil kembali menjadi titik-titik persemaian masa depan generasi Indonesia emas 2045. Sebagaimana Susukan pernah jadi pusat konsolidasi merebut kemerdekaan Indonesia 1945.

Referensi Pendukung:

  1. Nasution, A.H., 1978. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Perang Gerilya Semesta I jilid 6. Bandung: Angkasa
  2. Syafi’I, M. (2024). Clurut Commander in the Movement to Defend Independence in Tengaran 1947-1949. Journal of Islamic History, 4(1), 77-97.
  3. Akrom, M.F, & Lutfipambudi, V.R. (2026). Wiji Semi Gerakan Literasi Ibu-Ibu dari Susukan, Mendidik Diri sebelum Mendidik Anak. Kompas. https://regional.kompas.com/read/2026/07/23/104056078/wiji-semi-gerakan-literasi-ibu-ibu-dari-susukan-mendidik-diri-sebelum?page=all
  4. Wisnu A.N. (2021). Menkop UKM dorong KSU tingkatkan pengelolaan lahan beras organic. Antara News. https://jateng.antaranews.com/berita/415397/menkop-ukm-dorong-ksu-tingkatkan-pengelolaan-lahan-beras-organik

Blogger.

Post a Comment